Aku terlahir
dari jiwa yang tersakiti, sakit dari silaunya dunia yang membuat mataku tak
kuasa untuk tak sedikit berkedip. Mataku tak kuasa lagi membendung derasnya air
mata api yang membara dalam jiwaku, sehingga aku merasakan panasnya begitu
membara yang membakar dalam diri ini untuk mencari dan menemukan eksistensi
diri. Aku terlahir dari cinta yang menyakitkan, sakit akan sebuah permainan
cinta dari anak manusia betina yang selalu mempermainkan cinta ini, sehingga
aku benar-benar mengerti akan arti cinta yang sesungguhnya. Karena sakitnya
hati atas permainan cinta begitu tak tertahankan. Aku terlahir dari kesakitan-kesakitan
apa saja yang membuatku melangkah lebih jauh untuk menyusuri makna hidup yang
sesungguhnya, karena tak mungkin ku temui apa yang ku impikan di dalam
kehidupan ini bila tanpa kesakitan yang kurasakan.
Akan aku cari dari kesakitan itu sebuah arti
hidup yang sesungguhnya di dalam dunia ini, untuk ku persembahkan kepada orang-orang
yang mencintaiku dan orang-orang yang mencaciku, sebagai tanda terimakasihku
karena telah memberikan stimulan berupa cinta dan nista. Sanjungan dan hinaan
semakin mendorongku untuk lebih menjadi apa yang seharusnya aku lakonkan. Semua
itu sangat berperan penting dalam menemukan jati diri ini yang sesungguhnya.
Sakit memang tentang
apa-apa yang telah ku rasakan, baik itu tentang hidup maupun tentang cinta. Perjalanan
dalam kehidupanku ini begitu banyak onak dan duri yang tajam sehingga dalam
setiap likunya kehidupan aku selalu tertusuk runcingnya duri yang tajam yang
sesekali membuatku menangis dan merintih kesakitan.
Mungkin inilah jalannya untuk menjadi manusia
yang mengerti akan esensi hidup dan cinta, untuk menjadi manusia yang
berkepribadian tidak menyakiti orang lain, untuk menjadi manusia yang kuat
karena telah belajar dari sebuah kesakitan. Mungkin inilah jalanku untuk menjadi
manusia yang turut empati kepada orang yang telah mengalami pahitnya hidup dan
sakitnya cinta.